Prospek Kuliah Di Jurusan Teknik Telekomunikasi

Category : Pendidikan

Salam hangat dan sejahtera kami ucapkan kepada Adik-adik yang akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Untuk membantu menambahkan informasi pendidikan tinggi dan prospeknya dimasa depan bagi Adik-adik, berikut ini kami sampaikan informasi seputar dunia telekomunikasi dan profil pendidikan tinggi yang ada di tempat kami. Harapan kami semoga informasi ini dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan bagi Adik-adik untuk mengambil keputusan dan memilih perguruan tinggi.

A. Prospek Dunia Telekomunikasi dan Peluang Kerja

John Naishbit dalam bukunya “Mega Trend Asia 2000“ menempatkan TELEKOMUNIKASI sebagai suatu bidang yang mempunyai perkembangan PALING PESAT di kawasan Asia. Terbukti sekarang, bahwa jumlah pengguna telepon selular meningkat dengan pesat melebihi pemilik PC.

Teknologi Telekomunikasi saat ini berkembang pesat. Jika semula mayoritas layanan telekomunikasi hanya untuk suara saja, berbagai layanan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan, seperti pengiriman data (berupa teks, gambar maupun video), SMS, MMS, E-mail, Fax, Internet, Transfer File maupun Musik, bahkan game online dapat dinikmati oleh pengguna alat telekomunikasi.

Operator telekomunikasi (seperti Telkom, Indosat, Excelcomm, Telkomsel, Mobile-8, dan Esia) dan berbagai penyedia perangkat telekomunikasi (antara lain Erricson, Siemens, Motorola, dan Samsung),  semakin bertambah jumlahnya. Tentu hal ini akan menuntut tersedianya SDM yang berkualitas dalam jumlah banyak, dan lebih dari itu, bahwa calon-calon pencari kerja juga harus memenuhi kriteria “pendidikan” minimum yang disyaratkan oleh banyak perusahaan Telekomunikasi tersebut.

Menyimak fenomena tersebut yang sedemikian dekat dengan keseharian kita, tentunya bukanlah suatu pilihan yang keliru jika adik-adik memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan mengambil JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI. Apalagi JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI merupakan jurusan yang “ LANGKA “ di Perguruan Tinggi.

B. Profil Perguruan Tinggi

Kami, Akademi Teknik Telkom (AKATEL) Sandhy Putra, adalah perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Yayasan Sandhykara Putra Telkom. AKATEL merupakan perguruan tinggi yang dibina langsung oleh TELKOM. AKATEL menyelenggarakan program studi Diploma III, jurusan Teknik Telekomunikasi.

Di Program Studi ini, mahasiswa akan mempelajari aplikasi teknologi telekomunikasi terkini seperti Sistem Komunikasi Jaringan Kabel Tembaga, Sistem Komunikasi Wireless, Sistem Komunikasi Jaringan Serat Optik, Teknik Seluler dan Sistem Komunikasi Satelit.

Dengan adanya peralatan yang berkualitas, hibah dari UPLATDA Telkom Semarang dan DIVLAT TELKOM Bandung serta peralatan tambahan yang dipergunakan di Industri Telekomunikasi, kami siap mendidik para mahasiswa untuk memahami, serta memberikan skill di bidang telekomunikasi. Laboratorium di Akademi Teknik Telkom Sandhy Putra didukung oleh peralatan/trainer praktikum Leybold dari Jerman.

AKATEL didukung oleh tenaga pengajar alumni UGM, STT Telkom, ITS serta Dosen dari Unsoed dan praktisi dari TELKOM dan Telkomsel. Para dosen selama ini juga dituntut untuk selalu mendalami perkembangan Teknologi Telekomunikasi dengan mengikuti pelatihan/training maupun seminar dan melaksanakan penelitian. Selain itu, alumni Akademi Teknik Telkom  Sandhy Putra Purwokerto telah mendapat tempat di dunia industri seperti Patrakom, PLTU Cilacap, Tunaskomindo Persada, dll.

Demikian informasi singkat dari kami, semoga dapat memberikan manfaat dan membantu Adik-adik dalam mengambil keputusan. Jika adik-adik pernah gagal dalam upaya melanjutkan pendidikan tinggi di perguruan tinggi yang selama ini diidam-idamkan, maka anggaplah ini sebagai suatu undangan untuk bergabung bersama kami, dalam upaya meraih masa depan yang cerah di bidang Telekomunikasi.

Salam.

Menentukan PTS Pilihan

Category : Pendidikan

“Mau nerusin ke mana?” Itu adalah satu pertanyaan yang sering dilontarkan sesudah kita menyelesaikan studi di SLTA. Pertanyaan klasik yang sederhana tetapi tidak semudah itu untuk menjawabnya. Ngomong-ngomong, apa jawaban anda?

Di Indonesia saat ini terdapat 3000+ Perguruan Tinggi Swasta (PTS), tersebar dari Sabang sampai Merauke (tidak termasuk Timor Leste). Ada PTS berbentuk Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi, dan lain-lain. Masing-masing PTS mungkin menyelenggarakan lebih dari satu program studi, dan bisa jadi suatu program studi diselenggarakan dalam 2 atau lebih jalur/jenjang pendidikan, misalnya D1, D3, S1. (Kalau anda kurang memahami istilah-istilah tersebut, saya sarankan anda membaca kembali Struktur Pendidikan Tinggi). Bagaimana anda menentukan PTS pilihan anda? Jurusan apa? Lalu jalur/jenjang pendidikannya? Faktor apa saja yang perlu anda pertimbangkan dalam menentukan pilihan tersebut? Permasalahan menjadi jauh lebih sederhana jika di kota anda hanya ada satu PTS dan, karena satu atau lain hal, anda tidak bisa kuliah di luar kota. Tetapi, kasusnya biasanya tidak demikian. Permasalahan muncul karena anda bisa memilih.

Minat

Faktor utama yang harus anda pertimbangkan adalah minat anda. Hampir boleh dipastikan, tidak ada mahasiswa yang berhasil dalam studinya jika itu bertentangan dengan minatnya. Orang lain, termasuk orang tua, boleh memberikan saran atau masukan apapun, tetapi andalah yang akan menjalani sekian tahun proses belajar di perguruan tinggi. Sudah terlalu sering kita mendengar kegagalan mahasiswa karena ketidakcocokan dengan bidang studi yang diminatinya. Jangan sampai hal ini terjadi pada anda.

Biaya

Kemampuan keuangan sangat menentukan pilihan anda. Ini adalah faktor terpenting berikutnya yang harus anda perhitungkan. Kuliah di perguruan tinggi melibatkan banyak komponen biaya. Anda mungkin geleng-geleng kepala kalau saya sebutkan yang berikut ini, mulai uang pendaftaran, uang gedung, uang kuliah pokok, uang SKS, uang praktikum, uang ujian, uang jaket, uang buku, uang kesehatan, uang KKN, uang skripsi, uang ini, uang itu…….. you name it. Belum lagi biaya-biaya tidak langsung, seperti biaya kos, biaya hidup, biaya transportasi, biaya buku, biaya foto copy, dan lain-lain. Kalikan itu dengan sekian tahun masa kuliah anda.

Kalau anda bisa tinggal di rumah selama kuliah, sebaiknya ini yang anda pilih. Jadi, pilihlah PTS yang ada di kota anda. Kalau harus kuliah di luar kota, usahakan untuk tinggal di rumah saudara. Ini akan sangat banyak menghemat.

Sebelum melakukan pendaftaran, tanyakan semua komponen biaya yang harus anda bayarkan di PTS yang bersangkutan. Ingat untuk kuliah anda tidak hanya membayar uang kuliah saja. Tanyakan juga waktu pembayarannya. Biasanya PTS memberlakukan sistem pembayaran yang diharapkan tidak memberatkan mahasiswa, misalnya uang gedung boleh diangsur sekian kali, uang kuliah pokok dan uang SKS tidak dibayarkan bersamaan, dan lain sebagainya. Perhitungkan semuanya jika anda tidak ingin gagal karenanya.

Prospek

Dari ratusan program studi yang ditawarkan oleh PTS, tentu tidak semuanya menjanjikan prospek pekerjaan yang cerah di masa mendatang, 4 – 6 tahun sesudah anda menginjak bangku kuliah. Ada program studi yang tidak populer, sepi peminat karena dianggap tidak menarik atau kurang memberikan harapan pekerjaan dengan hasil yang memadai. Ada juga program studi yang selalu menjadi favorit, walaupun banyak lulusannya yang menganggur. Baik karena kurangnya lapangan pekerjaan atau pun terlalu banyaknya lulusan.

Anda dituntut untuk dapat memprediksi prospek bidang studi yang anda pilih dalam memasuki lapangan pekerjaan sesudah anda lulus nanti. Sebagai contoh, pemerintah pernah menyatakan program studi hukum sebagai jurusan yang sudah jenuh karena jumlah perguruan tinggi penyelenggara dan jumlah mahasiswa yang mengambil program studi ini. Anda harus sangat istimewa di bidang ini untuk dapat bersaing dengan sekian banyak lulusan lainnya.

Apakah hal itu masih berlaku sekarang? Di era reformasi ini kita banyak melihat kasus-kasus hukum yang mulai mencuat ke permukaan. Orang bicara mengenai hak, kewajiban dan tanggung jawab. Banyak buruh melakukan demo menuntut haknya dipenuhi. Selesaikan secara hukum. Banyak perusahaan dan bank yang memerlukan penyelesaian hukum untuk menuntaskan permasalahan sesudah krisis ekonomi ini. Bukankah logis kalau hal-hal tersebut diselesaikan oleh para sarjana hukum?

Kita lihat juga jurusan pertanian dan kelautan. Sesudah sektor industri dan perbankan terpuruk akhir-akhir ini, orang mulai melirik lagi sektor pertanian. Jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar, dan semuanya butuh makan setiap hari, menuntut tersedianya bahan pangan yang cukup untuk itu. Dan bukankah Tuhan memberikan tanah yang demikian subur kepada bangsa kita? Kenapa kita kalah dari Thailand misalnya dalam produksi hasil pertanian?

Bukan hanya tanah subur yang Tuhan berikan kepada kita, tetapi juga laut yang sangat luas dan kaya. Pemerintah pun menyadari hal ini dengan menunjuk seorang menteri yang bertugas untuk mengeksplorasi potensi kelautan Indonesia. Apakah bidang tersebut masih prospektif 5 tahun yang akan datang? Hei…. kita baru saja mulai.

Globalisasi? Tentu saja ini akan sangat menentukan wajah dunia masa datang. Perdagangan bebas, banyaknya perusahaan asing yang masuk ke Indonesia (di antaranya karena aset negara kita terpaksa dijual kepada mereka!), semuanya menuntut standar dunia juga. Bahasa asing (bukan hanya bahasa Inggris), perdagangan internasional, lingkungan, peralatan berteknologi tinggi, komputer, internet, dan banyak lagi akan menjadi tuntutan yang tak terhindarkan.

Saya ingatkan, tidak ada prediksi yang benar 100%. Tetapi akan sangat berguna kalau anda bisa mengantisipasi kondisi di masa depan. Kalau anda merasa tidak mampu melakukannya sendiri, bertanyalah kepada orang tua, guru, teman, konsultan, atau siapapun. Jangan pertaruhkan masa depan anda karena ketidaktahuan ini.

Sesudah ketiga faktor di atas anda pertimbangkan masak-masak, kini tiba saatnya anda memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan kriteria tersebut. Sediakan cukup banyak waktu, karena lebih banyak faktor eksternal dan bersifat teknis yang terlibat di sini. → Continue

Sedikit Keberuntungan,Sisanya Perjuangan

Category : Motivasi

Dari seorang guru honorer sekolah dasar menjadi pengusaha sukses kerajinan miniatur gitar.Itulah jalan hidup yang dialami Rastika.

JALAN hidup orang memang tak ada yang tahu.Begitu pun Rastika. Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ini malah terjun ke dunia bisnis miniatur gitar,bidang usaha yang bertolak belakang dari citacita awalnya menjadi seorang pendidik.

Lelaki kelahiran 1 Mei 1970 ini merintis usahanya pada 1998, tepat pada saat krisis moneter menerpa. Bukan perkara mudah memulai usaha saat badai krisis, sudah begitu tanpa modal sepeser pun di tangan.Pada situasi ini keberuntungan menghampiri Rastika. Seorang pembeli asal Inggris memesan miniatur gitar miliknya sebanyak 100 buah. Pembeli itu langsung membayar tunai di depan. “Saya terima Rp900.000. Uang itulah yang saya jadikan modal,”kenang Rastika. Kebaikan hati sang pembeli yang oleh Rastika kerap disapa Mr Morgan itulah rupanya yang membuka jalan usahanya. Dari uang Rp900.000, perjalanan bisnis Rastika dimulai.

Diiringi kerja keras dan keuletan, usaha Rastika dengan bendera Base Aur Craft kini mencapai kejayaannya. Setelah 12 tahun berjalan, Base Aur Craft yang bermarkas di Indramayu, Jawa Barat mampu meraup omzet hingga Rp125 juta per bulan. Produksinya pun meningkat tajam. Dari awalnya yang hanya ratusan, Base Aur Craft saat ini telah mampu memproduksi hingga 2.500 buah miniatur gitar per bulan. Selain omzet dan jumlah produksi yang kian meningkat, usaha ayah dua anak tersebut juga makin berkembang. Base Aur Craft juga memproduksi miniatur alat musik lainnya misalnya drum. ”Doa dari keluarga dan semangat saya untuk dapat mandiri membuat usaha saya berkembang baik sekarang.

Ya, bisa dikatakan penghasilan saya telah mampu melewati penghasilan seorang guru yang menjadi cita-cita saya,” tutur Rastika. Tapi, jangan dikira apa yang diraih pria 40 tahun tersebut dilalui dengan mudah. Semuanya melewati liku-liku kehidupan dengan iringan perjuangan, pengorbanan, tekad bulat,dan kuat menghadapi cobaan.”Semua kegetiran hidup sudah saya alami sebelum sukses seperti sekarang,” aku Rastika. Awalnya pada 1994,Rastika hanyalah seorang buruh di sebuah usaha rumahan yang memproduksi miniatur alat musik gitar.Adalah salah seorang saudara Rastika yang mengajaknya bekerja di usaha miniatur gitar di daerah Bandung.

”Sebelumnya saya bekerja sebagai guru honorer.Tapi karena gaji gak cukup, hanya dibayar Rp15.000 per bulan,akhirnya saya memutuskan pindah kerja,” tutur Rastika. Perpindahan tersebut sebenarnya berat. Rastika harus meninggalkan keluarganya di Indramayu menuju Bandung. Cobaan yang dialami Rastika semakin bertambah ketika tahu bahwa dia baru menerima gaji dua bulan sekali.Per hari Rastika pun hanya mendapat upah Rp3.000. Dengan penghasilan yang paspasan, selama tiga bulan pertama Rastika mengaku hanya makan nasi dengan lauk ikan asin. ”Saya pun sempat sakit selama sebulan,”tuturnya.

Namun, cobaan itu tak membuatnya patah arang. Motivasi untuk membahagiakan keluarga dan mengubah nasib membuat Rastika tetap bersemangat.Dalam benaknya dia justru ingin tahu cara membuat miniatur gitar dari mulai pemilihan bahan, pengecatan, hingga penyelesaian akhir. Jerih payahnya tak sia-sia.Saat perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan karena salah manajemen, Rastika justru mendapatkan berkah. Sang pembeli yang selama ini menjadi langganan perusahaan tempatnya bekerja memintanya membuatkan 100 buah miniatur gitar. ”Mr Morgan nama sang pembeli yang saya ceritakan tadilah yang menjadi pembuka jalan usaha saya. Karenanya saya sangat menjaga hubungan baik dengan Mr Morgan sampai sekarang,”ungkapnya.

Melalui bantuan Mr Morgan pula hasil kerajinan miniatur gitar Base Aur Craft tiap bulan diekspor ke Inggris dan negara-negara lain seperti Italia, Yunani, hingga menembus pasar Amerika Serikat, selain untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Pada Oktober 2009, Base Aur Craft mendapat pesanan 3.330 miniatur gitar dan 100 set miniatur drum grup musik The Beatles. Untuk menjaga kualitas produknya, Rastika mengaku mempelajari literatur pendukung. Usahanya pun semakin mantap seiring bantuan modal dari Bank Negara Indonesia (BNI). Rastika mengaku awalnya dia mendapat bantuan modal Rp225 juta dari BNI.Pada 2009 kucuran modal BNI bertambah lagi ke usahanya, Rp125 juta.

Hingga sekarang total bantuan BNI yang sudah disalurkan kepada Rastika mencapai Rp500 juta. Selain itu, dia juga mendapatkan pelatihan dan diikutsertakan dalam kegiatan studi banding ke China.”Saya bersyukur telah mendapat bantuan kredit dari BNI. Tidak hanya dari segi permodalan, tetapi juga pelatihan-pelatihan. Itu penting bagi pengusaha kecil seperti saya,”kata Rastika. Jalan panjang mencapai kesuksesan yang dilalui Rastika membuatnya selalu mensyukuri apa yang sudah didapat.Wujud syukurnya dengan mempekerjakan anakanak putus sekolah di sekitar tempat tinggalnya.

”50 karyawan saya, 30 di antaranya karyawan tetap sebagian besar anak-anak di sekitar tempat tinggal yang putus sekolah,”ujar Rastika. (sugeng wahyudi)

Menyiasati Pengangguran Bergelar

1

Category : Pendidikan

Sumber : Media Indonesia
Jumlah penganggur terdidik di Indonesia setiap tahun terus bertambah, seiring dengan diwisudanya sarjana baru lulusan berbagai perguruan tinggi (PT). Para sarjana pengangguran itu tidak hanya lulusan terbaik PT swasta, tetapi juga PT negeri kenamaan.

Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah sarjana (S-1) pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2008 jumlah pengangguran terdidik bertambah 216.300 orang atau sekitar 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik. Belum ditambah pengangguran lulusan diploma (D-1, D-2, D-3) terus meningkat. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57%.

Sarjana yang menganggur itu sebagian besar berasal dari jurusan sosial nonkependidikan, agama, dan sebagian lagi jurusan eksak (MIPA). Dari jurusan eksak dan teknik hanya sedikit menyumbang jumlah pengangguran. Itu karena sebagian besar jurusan eksak dan teknik sudah terserap di berbagai industri dan perusahaan BUMN. Fenomena meningkatnya jumlah pengangguran terdidik menimbulkan keprihatinan kita bersama. Selain menunjukkan adanya ketimpangan (mismatch), itu memperlihatkan kegagalan pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan bagi rakyatnya.

Jika dikaji dari perspektif sosiologi, meningkatnya pengangguran terdidik jelas membahayakan. Para penganggur itu sangat rentan melakukan tindak kriminalitas. Bahkan dengan kemampuan intelektual yang dimiliki, para sarjana pengangguran itu bisa menciptakan kejahatan baik di dunia nyata maupun dunia maya (internet). Seperti pembobolan bank melalui situsnya, menyebar virus komputer yang mematikan, sampai mengacak-acak data kependudukan.

Meledaknya jumlah pengangguran terdidik jauh hari sudah diramalkan pakar pendidikan Ivan Illich (1972). Menurutnya, akan tiba masa pendidikan menjadi tidak berguna dihadapkan dengan kehidupan nyata. Padahal pendidikan sudah terlalu banyak menyerap biaya, tetapi hasilnya kurang optimal. Bahkan, hanya menghasilkan para pemalas yang tidak terampil, yang mengincar pekerjaan formal dan ringan.

Ubah paradigma

Guna menekan kenaikan jumlah pengangguran terdidik, tidak ada pilihan bagi perguruan tinggi (PT) dan dunia pendidikan untuk mengubah paradigma. Jika semula lebih menekankan pada aspek kecerdasan konseptual (kognitif), kini harus dibarengi penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Pasalnya, berbagai penelitian menunjukkan keberhasilan mahasiswa bukan ditentukan kepandaian yang dipunyai, tetapi oleh faktor lainnya yang sangat penting. Singkatnya, tingkat kecerdasan hanya menyumbang sekitar 20%-30%, sementara jiwa kewirausahaan yang didukung kecerdasan sosial justru menyumbang 80% keberhasilan anak di kemudian hari.

Istilah kewirausahaan atau entrepreneurship, tulis Pinchot (1988), merupakan kemampuan untuk menginternalisasikan bakat rekayasa dan peluang yang ada. Seorang entrepreneur akan berani mengambil risiko, inovatif, kreatif, pantang menyerah, dan mampu menyiasati peluang secara tepat. Lebih dari itu, jiwa dan semangat kewirausahaan juga sangat urgen dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara. Bukan hanya ketepatan prediksi dan analisis yang tepat, melainkan juga merangsang terjadinya invensi dan inovasi penemuan-penemuan baru yang lebih efektif bagi pertumbuhan ekonomi. Lantas, bagaimana strategi menanamkan jiwa kewirausahaan itu?

Dalam pandangan Husaini Usman (2008), jiwa kewirausahaan sangat efektif jika ditanamkan melalui bangku pendidikan. Hanya, proses penanamannya harus dilakukan secara holistik atau melibatkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mata kuliah kewirausahaan seyogianya diberikan dengan porsi lebih banyak dan dominan jika dibandingkan dengan mata kuliah lainnya yang berorientasi pada kecerdasan kognitif.

Agar mahasiswa tidak bosan, pelajaran kewirausahaan harus dikemas secara menarik, sistematis, dan disesuaikan dengan tingkatan usia anak didik, serta dalam kondisi menyenangkan. Sebagai praktiknya, pihak kampus perlu mengundang para pelaku bisnis yang sukses. Mereka diminta menerangkan atau menceritakan perjalanan hidup, dan bagaimana kiat-kiat agar usaha bisa sukses. Kisah hidup itu paling tidak akan merangsang para mahasiswa untuk meneladaninya.

Jika memungkinkan, pihak kampus perlu memperbanyak pendirian usaha nyata. Misalnya gerai penjual makanan, simpan pinjam, jasa tiket transportasi, perbankan, kursus bahasa asing, dan sebagainya. Selanjutnya, secara bergantian para mahasiswa mendapat tugas berpraksis di situ, dengan target-target yang telah ditentukan. Kegiatan ini selain sebagai proses magang kerja, juga akan memperkenalkan mahasiswa pada kondisi usaha riil.

Menyiasati peluang

Fenomena ketimpangan lulusan PT dengan dunia kerja harus disikapi dengan jeli, kreatif, pantang menyerah dan penuh kearifan. Entah dari calon mahasiswa, orang tua, pengelola PT, entah pemerintah sebagai stakeholder pendidikan. Bagi mahasiswa, sejak awal memasuki PT harus disiapkan mental bahwa kuliah bukan segala-galanya. Persiapan mental itu selanjutnya dibarengi sikap membuka diri, cerdas menyiasati peluang, dan kreatif mencari ilmu-ilmu praktis yang berguna untuk kehidupan kelak. Benar kuliah tidak boleh ditinggalkan, tetapi tidak ada salahnya jika mereka juga mengikuti berbagai training; semisal training sumber daya manusia (SDM), peningkatan kemampuan finansial dan jiwa kewirausahaan.

Mengikuti berbagai pelatihan bagi mahasiswa menjadi penting sebab fakta di dunia kerja menunjukkan tidak semua lulusan PT siap kerja. Hasil studi Blau dan Duncan (1967) di Amerika Serikat, Mark Blaug (1974) di Inggris, dan Cummings (1980) di Indonesia menunjukkan kecenderungan bahwa tidak semua lulusan PT siap dipekerjakan. Banyak dunia industri yang mengeluh lantaran harus melakukan pelatihan bagi lulusan PT dalam waktu yang lama sebelum dipekerjakan.

Selain giat mengikuti berbagai pelatihan, para mahasiswa juga harus membekali diri dengan berbagai keterampilan. Misalnya keterampilan bahasa asing, komputer, keahlian berkomunikasi, jaringan kerja (networks), dan sebagainya. Bagi mereka yang gemar menulis, tidak ada salahnya jika skill itu digunakan untuk menambah penghasilan sembari menerapkan teori-teori yang didapat dari bangku kuliah. Singkatnya, ketika masih kuliah, para mahasiswa harus ‘prihatin’, kritis, dan kreatif.

Setelah lulus, kata Ono Suparno (2010), para sarjana–dengan berbekal keahliannya–dituntut tidak sekedar menjadi entrepreneurship biasa. Tidak hanya tidak sebanding dengan tingkat kapabilitas dan skill yang dimiliki, seorang entrepreneurship biasa hanya memiliki kemampuan menjual sebuah produk dengan mendapat keuntungan sedikit. Para sarjana itu mestinya menjadi seorang entrepreneurship berbasis teknologi atau technopreneurship, yang mampu menciptakan produk bernilai tambah hasil dengan bantuan teknologi. Technopreneurship juga akan menjadi salah satu kunci penciptaan knowledge-based economy, yang akan meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi pengangguran.

Agar sukses menjadi seorang technopreneurship, para sarjana perlu memperhatikan dua konsep penting. Pertama, menjamin bahwa teknologi yang diterapkan atau dibuat bekerja dalam lingkungan target. Dengan menetapkan target, kerja yang dilakukan akan terarah efektif dan efisien. Ketepatan dan kecepatan dalam alokasi waktu itu, sangat menentukan keberhasilan seorang technopreneurship. Kedua, teknologi tersebut dapat dijual dengan menghasilkan keuntungan. Artinya, orientasi penciptaan sebuah teknologi sebisa mungkin diarahkan pada keuntungan berlipat, dengan terlebih dahulu meningkatkan nilai jual.

Di sisi lain, pemerintah sebagai pemegang kebijakan (policy maker) harus menyambut baik dan mendukung para sarjana yang menjadi technopreneurship. Dukungan itu amat penting, sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam pengentasan pengangguran. Bentuk dukungan pemerintah misalnya dengan mempermudah prosedur pengurusan hak paten. Selama ini proses pengajuan hak paten sangat rumit dan terkesan dipersulit sehingga sedikit perguruan tinggi (PT) yang mengajukan permohonan hak paten. Pada 2000-2005 misalnya, hanya ada sekitar 201 pengajuan hak paten dari perguruan tinggi. Padahal, hak paten merupakan kunci kesuksesan utama sebagai technopreneurship. Dengan penggunaan hak paten, penelitian di perguruan tinggi juga bisa terdorong, dan alih teknologi serta investasi bisa terangsang lebih besar lagi.

Oleh Agus Wibowo Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Menata Ulang Pendidikan Karakter Bangsa

Category : Pendidikan

Bekas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah (1) tanda yang tertinggal atau tersisa (setelah dipegang, diinjak, dilalui); kesan, (2) sesuatu yang tertinggal sebagai sisa (yang telah rusak, terbakar, tidak dipakai lagi); (3) pernah menjabat atau menjadi. tetapi sekarang tidak lagi, mantan; dan (4) sudah pernah dipakai. Makna lain dari bekas adalah tempat menaruh sesuatu, wadah. Adapun bekasam/pekasam adalah ikan (daging, durian, dsb), yang diasinkan atau diasamkan, lalu dijemur atau disimpan agak lama.
Mobil bekas adalah mobil yang pernah dipakai orang lain. Baju bekas pasti tidak lagi seindah pakaian baru, malah sering kali diberikan kepada orang lain saat bakti sosial. Manusia bekas? Setiap orang, selama bertahun-tahun, telah menjadi korban dari kata-kata orang lain. Orang tua, guru, teman, pimpinan, tokoh masyarakat, politisi, disadari atau tidak, telah membentuk alam pikiran kita menjadi seperti apa yang mereka katakan. Hebatnya, kita sendiri sangat menikmati hidup dalam belenggu kata-kata bekas orang lain itu. Mereka ini disebut Jiddu Krishnamurti, dalam bukunya yang sangat inspiratif, Freedom from the Known, sebagai manusia bekas (secondhand people).
Jika demikian yang dilakukan, tanpa terasa kita telah berubah menjadi entitas bekas. Potensi kemanusiaan telah tereduksi sedemikian rupa menjadi hanya sekadar wadah, tempat menaruh sesuatu. Kebiasaan menjadi wadah, berakibat kecenderungan konformitas lebih kuat daripada kreativitas. Produktivitas, karenanya, menjadi sesuatu yang sangat sulit terjadi. Orang lebih nyaman menjadi konsumen daripada bersusah payah berupaya untuk dapat menjadi produsen. Pendidikan kita selama ini, mohon maaf, sepertinya lebih banyak menghasilkan generasi yang pandai mengeluh, membebek, dan memintas. Perubahan paradigma pendidikan diperlukan secara lebih fundamental jika kita berharap bangsa ini dapat lebih produktif dan memilik daya saing global di masa depan. Kalau tidak, pendidikan di republik ini hanya akan terus melahirkan secondhand human being.

Pendidikan karakter yang efektif
Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.
Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan–sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.
Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup.
Sekolah yang telah berkomitmen untuk mengembangkan karakter melihat diri mereka sendiri melalui lensa moral, untuk menilai apakah segala sesuatu yang berlangsung di sekolah mempengaruhi perkembangan karakter siswa. Pendekatan yang komprehensif menggunakan semua aspek persekolahan sebagai peluang untuk pengembangan karakter. Ini mencakup apa yang sering disebut dengan istilah kurikulum tersembunyi, hidden curriculum (upacara dan prosedur sekolah; keteladanan guru; hubungan siswa dengan guru, staf sekolah lainnya, dan sesama mereka sendiri; proses pengajaran; keanekaragaman siswa; penilaian pembelajaran; pengelolaan lingkungan sekolah; kebijakan disiplin); kurikulum akademik, academic curriculum (mata pelajaran inti, termasuk kurikulum kesehatan jasmani), dan program-program ekstrakurikuler, extracurricular programs (tim olahraga, klub, proyek pelayanan, dan kegiatan-kegiatan setelah jam sekolah).
Di samping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektivitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari komunitas yang lebih luas (bisnis, organisasi pemuda, lembaga keagamaan, pemerintah, dan media) dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah-orang tua ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik karena terlalu banyak menekankan pada penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan program. Berbagai pertemuan yang dilakukan tidak jarang terjebak kepada sekadar tawar-menawar sumbangan, bukan bagaimana sebaiknya pendidikan karakter dilakukan bersama antara keluarga dan sekolah.
Pendidikan karakter yang efektif harus menyertakan usaha untuk menilai kemajuan. Terdapat tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian: (1) karakter sekolah: sampai sejauh mana sekolah menjadi komunitas yang lebih peduli dan saling menghargai? (2) Pertumbuhan staf sekolah sebagai pendidik karakter: sampai sejauh mana staf sekolah mengembangkan pemahaman tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk mendorong pengembangan karakter? (3) Karakter siswa: sejauh mana siswa memanifestasikan pemahaman, komitmen, dan tindakan atas nilai-nilai etis inti? Hal seperti itu dapat dilakukan di awal pelaksanaan pendidikan karakter untuk mendapatkan baseline dan diulang lagi di kemudian hari untuk menilai kemajuan.

Menjadi laksanawan
Meski tidak umum, pemunculan istilah laksanawan semoga tidak keliru–wan atau -wati adalah sebuah sufiks dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Sanskerta. Akhiran itu biasanya digunakan bersama-sama dengan kata benda, dan dapat berarti ‘orang yang…’ Dalam perkembangannya, akhiran -wan mengalami perluasan makna sehingga dapat berarti ‘orang yang ahli dan berprofesi dalam bidang…’ Misalnya, usahawan orang yang ahli dan berprofesi dalam bidang usaha tertentu. Oleh karena itu, laksanawan dimaksudkan sebagai orang yang ahli melaksanakan apa yang diyakini, orang yang berprofesi melaksanakan apa yang sudah menjadi keyakinan hidupnya. Manusia jenis itu tidak puas dengan hanya wacana. Inilah man of action, in the real meaning. Bersatu antara kata dan perbuatan.
Semoga pendidikan karakter tidak berhenti hanya wacana karena tidak termasuk dalam program 100 hari pemerintah SBY-Boediyono. Pada poin 13, reformasi di bidang pendidikan, hanya disebut: ‘Menyambungkan atau mencegah mismatch antara yang dihasilkan lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan dan keperluan pasar tenaga kerja. Banyak yang dihasilkan perguruan tinggi, oleh sekolah-sekolah kejuruan, oleh balai-balai latihan kerja, tidak selalu klop dengan yang diminta pasar tenaga kerja.’ Lagi-lagi hanya soal pekerjaan, lalu di mana pendidikan karakter? Who knows?

Oleh Khoiruddin Bashori, Pengamat dan Psikolog Pendidikan

Sumber : Media Indonesia

AKATEL Gelar Wisuda Ke-IV

Category : AKATEL

Sabtu lalu (5/12), bertempat di Gedung Pertemuan Bank BPD Jateng Purwokerto, AKATEL Sandhy Putra Purwokerto menggelar wisuda yang ke-IV yang meluluskan 64 wisudawan. Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Alfin Hikmaturokhman, S.T. menjelaskan, acara tersebut dihadiri oleh Ketua dan anggota pengurus Yayasan Sandhykara Putra Telkom, selaku yayasan yang menaungi AKATEL Sandhy Putra. Selain itu, dihadiri secara langsung oleh Bupati Banyumas Drs. H. Mardjoko, M.M. Wisuda juga dihadiri Direksi PT. Telkom, Tbk. Acara juga dihadiri ketua Masyarakat Telekomunikasi (MASTEL) Bidang Kajian Teknologi yang memberikan orasi ilmiah dengan judul “Peran Mastel dalam Kancah Industri dan Jasa Telekomunikasi yang Makin Kompetitif”.

Alfin menambahkan, dalam wisuda tersebut dua wisudawan terbaik menerima penghargaan uang tunai dari AKATEL Sandhy Putra Purwokerto dan PT. Koprima Sandhy Sejahtera. Wisudawan terbaik juga menerima handset Flexyphone beserta nomornya yang diserahkan Direksi PT. Telkom, Tbk. Dia menjelaskan dari sejumlah peserta wisuda tersebut, 42 wisudawan diantaranya telah diterima bekerja di beberapa perusahaan level nasional. Sementara beberapa wisudawan menunggu seleksi penerimaan CPNSD. “Kesempatan kerja makin terbuka dengan adanya MoU bersama berbagai perusahaan,” katanya.

Pendidikan yang Menghina Pendidikan

Category : Pendidikan

Sumber : Media Indonesia

JUMLAH sarjana yang menganggur di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada Februari 2005, jumlah sarjana yang menganggur masih 385.400 orang. Empat tahun kemudian, yakni pada Februari 2009, jumlahnya sudah melonjak dua kali lipat menjadi 626.600 orang.

Angka pengangguran terdidik bertambah besar lagi jika digabungkan dengan pengangguran lulusan diploma yang mencapai 486.400 orang. Para penganggur terdidik itu merupakan bagian dari pengangguran terbuka secara nasional yang pada Februari 2009 mencapai 9,26 juta atau setara dengan 8,14% dari total angkatan kerja.

Pertambahan jumlah pengangguran tingkat sarjana mesti diwaspadai. Sebab setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 300.000 sarjana dari 2.900 perguruan tinggi. Semakin besarnya angka pengangguran terdidik tentu saja berdampak buruk, yakni berpotensi menimbulkan masalah sosial.

Mereka, para penganggur terdidik, bisa saja menjadi aktor intelektual kejahatan yang ada di tengah masyarakat. Selain itu, pengangguran terdidik adalah sebuah pemborosan. Bukankah negara sudah mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan? Alokasi anggaran yang begitu besar hanya untuk memproduksi penganggur sehingga jelas sebuah pemborosan.

Dampak buruk lainnya, ini paling serius, adalah hilangnya penghargaan dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi. Bukan rahasia lagi, untuk masuk ke perguruan tinggi dibutuhkan biaya selangit.

Semakin jelas sudah bahwa perguruan tinggi masih menghasilkan manusia pencari kerja. Celakanya, perencanaan pembangunan pendidikan tinggi tidak selaras dengan perkembangan lapangan kerja sehingga lulusannya tidak bisa terserap di lapangan kerja. → Continue

Career Development Center AKATEL Kerjasama dengan JobsDB.com

Category : AKATEL, Lowongan Kerja, Mahasiswa

JobDB.com

JobDB.com

Career Development Center (CDC) yaitu sebuah pusat pelayanan karir terpadu dalam rangka membangun dan mengembangkan profesionalisme lulusan AKATEL. Melalui pusat pelayanan karir ini diharapkan dapat terjadi interaksi antara mahasiswa atau alumni dengan dunia industri dan jasa sehingga lulusan Akademi Teknik Telekomunikasi Sandhy Putra (AKATEL) sebagai Perguruan Tinggi dibawah Pembinaan PT TELKOM dapat terserap sesuai dengan bidang keahliannya dan kebutuhan dunia industri dan jasa.

Oleh karena itu sebagai bentuk implementasi tanggung jawab tersebut CDC menyediakan berbagai informasi lowongan kerja secara on line melalui situs web www.akatelsp.ac.id, mailing list maupun dipasang dipapang pengumuman.

Setelah MOU dengan PT Multimedia Nusantara (PT Telkom Group) untuk Praktek Kerja Lapangan dan Rekrutment Kerja (yang pelaksanaanya sudah dilakukan pada semester sebelumnya). Kemudian untuk lebih meningkatkan jaringan dengan Dunia Usaha dan Industri maka pada 7 Agustus 2009 bertempat di Kampus AKATEL Purwokerto, JobsDB.com bekerja sama dengan Akademi Teknik Telekomunikasi Sandhy Putra (AKATEL) menandatangani perjanjian kerjasama Campnet, portal lowongan kerja perpanjangan JobsDB.com yang memuat informasi lowongan kerja dan karir khusus untuk fresh graduates.

JobsDB.com sendiri merupakan jaringan rekrutmen tenaga professional yang memiliki jangkauan terluas di Asia Pasifik. Saat ini JobsDB.com aktif melayani di 12 negara yakni Amerika, Australia, China, Hongkong, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan dan Thailand. HIngga saat ini professional yang menjadi anggota JobsDB.com mencapai 9 juta orang, sedangkan perusahaan yang menggunakan jasa JobsDB.com mencapai lebih dari 382.000 korporasi. → Continue

Beasiswa Alih Jenjang D3 Ke D4 AKATEL SP Purwokerto Dengan ITB

Category : Beasiswa

Dalam rangka mengembangkan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan D3 untuk melanjutkan ke D4, ITB bekerja sama dengan SEAMOLEC membuka program Alih Jenjang D3 ke D-4 TKJ (Teknik Komputer  dan Jaringan).

Biaya pendidikan 12 juta utk 2 semester

Persyaratan :

  • Lulusan D3 bidang Sains dan Teknik
  • Umur max 40 tahun
  • Bahasa Inggris ( TOEFL ) utk skor minimal menyusul
  • IPK minimal 2,75
  • Mengisi formulir
  • Menyerahkan fotokopi Ijasah dan Transkrip
  • Menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter
  • Menyerahkan surat rekomendasi ( bagi yg sudah aktif bekerja dan mendapatkan tugas belajar)
  • Khusus utk lulusan D3 TKJ harus ada surat tugas dari institusi pengirim /Dinas Kabupaten/Kota dan dibiayai oleh institusi pengirim
  • Lulus seleksi

Waktu pendaftaran untuk di Akatel Sandhy Putra Purwokerto dari tanggal 1 s.d  20 Agustus 2009

Seleksi  di Akatel Sandhy Putra Purwokerto ( jika jumlah memenuhi ) pada tanggal 22 s.d 23 Agustus 2009.

Cara perkuliahan :

  • menggunakan pola hybrid PJJ
  • waktu perkuliahan 3 bulan awal di ITB, 6 bulan di AKATEL, 3 bulan terakhir di ITB.
  • Kredit antara  40 – 46 sks
  • Perkuliahan dengan tatap muka, Vicon dari sub kampus, Multicast dari tempat kerja masing – masing dengan cara menginstal alat multicast.

Beasiswa :

  • Seamolec  20 orang utk mahasiswa yg magang di wilayah perbatasan dan 5 orang utk program Cikapundung – net
  • PMPTK subsidi pendidikan di LPMP ( untuk guru )
  • Industri
  • Pemda
  • Sekolah
  • Orangtua ( Mandiri )

Kontak person :
Jateng
Adnan Purwanto  081327061869     jean_doel@gmail.com

DI Yogyakarta
Agus Sugiharto 08156850113     agussgh@yahoo.com

Jabar
M. Nasir  085220147995    nasirdb_jpr@yahoo.com

Seamolec :
Muhtadi Zubeir  08122721461     muhtadi@seamolec.org
Hafid Setyo  081334456943     hafid_setyo@seamolec.org
Dani PH  085882567047     daniph@seamolec.org
Cahya K  081398426293    cahya@seamolec.org

Mahasiswa Akatel Mendapatkan Penghargaan Dari DIKTI

Category : AKATEL, Beasiswa, Mahasiswa, Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu kata kunci keberhasilan bangsa Indonesia untuk dapat bersaing dan berdampingan setara dengan bangsa-bangsa maju di dunia. Oleh karena itu, lulusan Perguruan Tinggi diharapkan mampu mengaktualisasikan kemampuan akademik, kemahiran berpikir, keterampilan menatakelola dan kecakapan berkomunikasinya di semua aspek kehidupan berbangsa.

Oleh karena itu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) telah meluncurkan program pengembangan penalaran dan keilmuan yaitu Program Kretivitas Mahasiswa – Artikel Ilmiah (PKM-AI)

Akademi Teknik TELKOM Purwokerto (AKATEL) Sebagai Perguruan Tinggi di bawah pembinaan PT TELKOM selalu meningkatkan Pembinaan mahasiswa nya dalam segala bidang baik dari sisi Penalaran,Minat Bakat dan Kesejahteraan Mahasiswa

Sebagai salah satu indikator keberhasilan Pembinaan Mahasiswa di bidang Penalaran Mahasiswa adalah berhasilnya Mahasiwa AKATEL mendapatkan penghargaan berupa hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), pada Program Kretivitas Mahasiswa – Artikel Ilmiah (PKM-AI) . Dari 2885 Judul hanya 380 judul yang mendapatkan penghargaan dari Ditjen Dikti

Prestasi Mahasiwa AKATEL tidak hanya dibidang penalaran saja tetapi juga dibidang minat dan bakat, Pada Pekan Olahraga Mahasiwa Provinsi (POMPROV) di Semarang tahun 2007 lalu Akatel mendapatkan Juara 1 dan 2 untuk Cabang Olahraga Catur dan Di Pekan Olahraga Mahasiswa Tingkat Nasional (POMNAS) Akatel mendapatkan Juara 3. Di Tahun 2009 Akatel juga akan berpartisipasi pada Pekan Olahraga Mahasiswaa Tingkat Provinsi DI Semarang tanggal 6-9 Agustus dan semoga mendapatkan kemenangan seperti tahun sebelumnya.

Bagi adik-adik SLTA yang berminat untuk bergabung , pada tahun Akademik 2009/2010 ini AKATEL membuka Pendaftaran Mahasiswa Baru 27 Juli – 22 Agustus , pendaftaran dilaksanakan di Kampus Akatel Jl Di Panjaitan No 128 Purwokerto, dan bagi adik-adik yang berada di Tegal, Brebes, Pekalongan bisa langsung mendaftar ke Koperasi Pegawai Telkom Tegal.

Ka. BAAK

Alfin Hikmaturokhman, ST.