Kerjasama AKATEL SP Purwokerto dengan SMPN 1 Jeruk Legi Cilacap

Category : AKATEL, Kerjasama, Pendidikan

Gabung dalam forum untuk mendiskusikan topik ini.

Pada tanggal 2 Juli 2010 telah ditanda tangani Memorandum of Understanding (MoU) antara AKATEL Sandhy Putra Purwokerto dengan SMPN 1 Jeruk Legi Cilacap. MoU tersebut dibuat untuk meningkatkan mutu relevansi dan daya saing pendidikan dengan kegiatan antara lain perluasan akses informasi, pemberdayaan forum komunikasi antar lembaga, pengabdian masyarakat dan pelatihan / sertifikasi.

Di hari yang sama sesuai MoU tersebut AKATEL SP Purwokerto memberikan bantuan instalasi Digital Library Senayan dan memberikan pelatihan cara penggunaan Digital Library. Hal ini dilakukan dalam rangka pengabdian masyarakat AKATEL dan meningkatkan pelayanan perpustakaan SMPN 1 Jeruk Legi Cilacap. Pada tahun ini SMPN 1 Jeruk Legi ditunjuk mewakili Kabupaten Cilacap dalam Lomba Perpustakaan Tingkat SMP se Jawa Tengah, dimana sebelumnya prestasi yang telah diraih adalah Juara II Perpustakaan SMP terbaik se Jawa Tengah.

Selain SMPN 1 Jeruk Legi, AKATEL menjalin kerjasama dengan instansi lain antara lain :

  • Perjanjian Akademi Lokal JENI antara AKATEL SP Purwokerto – VEDC Malang
  • Cisco Networking Local Academy Agreement antara AKATEL SP Purwokerto – VEDC Malang
  • Praktek Kerja Melalui Pelaksanaan PSG di Pt. TELKOM, Tbk
  • Penyelenggaraan Jasa Informasi Menggunakan SMS Flexi antara AKATEL SP Purwokerto – KANDATEL Purwokerto
  • Penyelenggaraan Beasiswa Mahasiswa Jardiknas antara AKATEL SP Purwokerto dgn Biro PKLN Jakarta
  • Perjanjian Tempat Uji Kompetensi Lokal KKPI antara AKATEL SP Purwokerto – VEDC Malang
  • Praktek Kerja Lapangan dan Rekruitment SDM antara AKATEL SP Purwokerto dengan Multimedia Nusantara
  • Monitoring Evaluasi PJJ SEAMOLEC antara AKATEL SP Purwokerto dgn SEAMOLEC
  • Pelaksanaan Seminar dan Pelatihan Bersama antara AKATEL SP Purwokerto dgn Club Guru Banyumas
  • Kerja Sama Antar Lembaga Pendidikan SMAN 1 Kejobong dgn AKATEL SP Purwokerto
  • Peningkatan Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi antara AKATEL SP Purwokerto dgn Poltek Telkom Bandung
  • Rekruitment SDM antara PT. Daya Adira Mustika Area Jabar dgn AKATEL SP Purwokerto
  • Pembinaan Local JENI SMK N 1 Purwokerto
  • Pembinaan Local JENI SMK N 1 Purbalingga
  • Penyelenggaraan Beasiswa Mahasiswa Jardiknas antara AKATEL SP Purwokerto dgn Pustekom Depdiknas
  • Peningkatan Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi antara AKATEL SP Purwokerto dengan AKATEL SP Jakarta

Lomba Penulisan Artikel Pendidikan 2010

Category : Pendidikan

Sebagai rangkaian dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2010, Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), menyelenggarakan Lomba Penulisan Artikel Pendidikan.

Tema lomba penulisan artikel sejalan dengan tema Hardiknas 2010, yaitu: “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”

Kriteria Lomba :

  1. Lomba terbuka untuk umum, kecuali pegawai Kemdiknas Pusat;
  2. Artikel adalah karya asli dan belum pernah diterbitkan sebelumnya;
  3. Panitia berhak menggugurkan pemenang apabila di kemudian hari artikel terbukti bukan karya asli dan sudah pernah diterbitkan;
  4. Artikel dimuat pada harian surat kabar yang terbit di Indonesia dari 20 Mei – 20 Juli 2010;
  5. Bukti pemuatan artikel dan fotokopi identitas penulis dikirim ke alamat panitia lomba: Pusat Informasi dan Humas, Gedung C lt. 4, Kemdiknas, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat;
  6. Artikel diterima panitia paling lambat 22 Juli 2010 (sesuai bukti pengiriman);
  7. Setiap penulis bisa mengirimkan lebih dari satu artikel;
  8. Hasil lomba akan diumumkan melalui www.kemdiknas.go.id dan pemenang akan dihubungi oleh panitia untuk diundang menghadiri penyerahan hadiah pada acara puncak Hardiknas 2010 (pertengahan Agustus 2010);
  9. Pemenang terdiri dari I, II, III, dan harapan I, II serta berhak atas hadiah dan Piagam Penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional;
  10. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Sumber : KEMDIKNAS

Prospek Kuliah Di Jurusan Teknik Telekomunikasi

Category : Pendidikan

Salam hangat dan sejahtera kami ucapkan kepada Adik-adik yang akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Untuk membantu menambahkan informasi pendidikan tinggi dan prospeknya dimasa depan bagi Adik-adik, berikut ini kami sampaikan informasi seputar dunia telekomunikasi dan profil pendidikan tinggi yang ada di tempat kami. Harapan kami semoga informasi ini dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan bagi Adik-adik untuk mengambil keputusan dan memilih perguruan tinggi.

A. Prospek Dunia Telekomunikasi dan Peluang Kerja

John Naishbit dalam bukunya “Mega Trend Asia 2000“ menempatkan TELEKOMUNIKASI sebagai suatu bidang yang mempunyai perkembangan PALING PESAT di kawasan Asia. Terbukti sekarang, bahwa jumlah pengguna telepon selular meningkat dengan pesat melebihi pemilik PC.

Teknologi Telekomunikasi saat ini berkembang pesat. Jika semula mayoritas layanan telekomunikasi hanya untuk suara saja, berbagai layanan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan, seperti pengiriman data (berupa teks, gambar maupun video), SMS, MMS, E-mail, Fax, Internet, Transfer File maupun Musik, bahkan game online dapat dinikmati oleh pengguna alat telekomunikasi.

Operator telekomunikasi (seperti Telkom, Indosat, Excelcomm, Telkomsel, Mobile-8, dan Esia) dan berbagai penyedia perangkat telekomunikasi (antara lain Erricson, Siemens, Motorola, dan Samsung),  semakin bertambah jumlahnya. Tentu hal ini akan menuntut tersedianya SDM yang berkualitas dalam jumlah banyak, dan lebih dari itu, bahwa calon-calon pencari kerja juga harus memenuhi kriteria “pendidikan” minimum yang disyaratkan oleh banyak perusahaan Telekomunikasi tersebut.

Menyimak fenomena tersebut yang sedemikian dekat dengan keseharian kita, tentunya bukanlah suatu pilihan yang keliru jika adik-adik memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan mengambil JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI. Apalagi JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI merupakan jurusan yang “ LANGKA “ di Perguruan Tinggi.

B. Profil Perguruan Tinggi

Kami, Akademi Teknik Telkom (AKATEL) Sandhy Putra, adalah perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Yayasan Sandhykara Putra Telkom. AKATEL merupakan perguruan tinggi yang dibina langsung oleh TELKOM. AKATEL menyelenggarakan program studi Diploma III, jurusan Teknik Telekomunikasi.

Di Program Studi ini, mahasiswa akan mempelajari aplikasi teknologi telekomunikasi terkini seperti Sistem Komunikasi Jaringan Kabel Tembaga, Sistem Komunikasi Wireless, Sistem Komunikasi Jaringan Serat Optik, Teknik Seluler dan Sistem Komunikasi Satelit.

Dengan adanya peralatan yang berkualitas, hibah dari UPLATDA Telkom Semarang dan DIVLAT TELKOM Bandung serta peralatan tambahan yang dipergunakan di Industri Telekomunikasi, kami siap mendidik para mahasiswa untuk memahami, serta memberikan skill di bidang telekomunikasi. Laboratorium di Akademi Teknik Telkom Sandhy Putra didukung oleh peralatan/trainer praktikum Leybold dari Jerman.

AKATEL didukung oleh tenaga pengajar alumni UGM, STT Telkom, ITS serta Dosen dari Unsoed dan praktisi dari TELKOM dan Telkomsel. Para dosen selama ini juga dituntut untuk selalu mendalami perkembangan Teknologi Telekomunikasi dengan mengikuti pelatihan/training maupun seminar dan melaksanakan penelitian. Selain itu, alumni Akademi Teknik Telkom  Sandhy Putra Purwokerto telah mendapat tempat di dunia industri seperti Patrakom, PLTU Cilacap, Tunaskomindo Persada, dll.

Demikian informasi singkat dari kami, semoga dapat memberikan manfaat dan membantu Adik-adik dalam mengambil keputusan. Jika adik-adik pernah gagal dalam upaya melanjutkan pendidikan tinggi di perguruan tinggi yang selama ini diidam-idamkan, maka anggaplah ini sebagai suatu undangan untuk bergabung bersama kami, dalam upaya meraih masa depan yang cerah di bidang Telekomunikasi.

Salam.

Menentukan PTS Pilihan

Category : Pendidikan

“Mau nerusin ke mana?” Itu adalah satu pertanyaan yang sering dilontarkan sesudah kita menyelesaikan studi di SLTA. Pertanyaan klasik yang sederhana tetapi tidak semudah itu untuk menjawabnya. Ngomong-ngomong, apa jawaban anda?

Di Indonesia saat ini terdapat 3000+ Perguruan Tinggi Swasta (PTS), tersebar dari Sabang sampai Merauke (tidak termasuk Timor Leste). Ada PTS berbentuk Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi, dan lain-lain. Masing-masing PTS mungkin menyelenggarakan lebih dari satu program studi, dan bisa jadi suatu program studi diselenggarakan dalam 2 atau lebih jalur/jenjang pendidikan, misalnya D1, D3, S1. (Kalau anda kurang memahami istilah-istilah tersebut, saya sarankan anda membaca kembali Struktur Pendidikan Tinggi). Bagaimana anda menentukan PTS pilihan anda? Jurusan apa? Lalu jalur/jenjang pendidikannya? Faktor apa saja yang perlu anda pertimbangkan dalam menentukan pilihan tersebut? Permasalahan menjadi jauh lebih sederhana jika di kota anda hanya ada satu PTS dan, karena satu atau lain hal, anda tidak bisa kuliah di luar kota. Tetapi, kasusnya biasanya tidak demikian. Permasalahan muncul karena anda bisa memilih.

Minat

Faktor utama yang harus anda pertimbangkan adalah minat anda. Hampir boleh dipastikan, tidak ada mahasiswa yang berhasil dalam studinya jika itu bertentangan dengan minatnya. Orang lain, termasuk orang tua, boleh memberikan saran atau masukan apapun, tetapi andalah yang akan menjalani sekian tahun proses belajar di perguruan tinggi. Sudah terlalu sering kita mendengar kegagalan mahasiswa karena ketidakcocokan dengan bidang studi yang diminatinya. Jangan sampai hal ini terjadi pada anda.

Biaya

Kemampuan keuangan sangat menentukan pilihan anda. Ini adalah faktor terpenting berikutnya yang harus anda perhitungkan. Kuliah di perguruan tinggi melibatkan banyak komponen biaya. Anda mungkin geleng-geleng kepala kalau saya sebutkan yang berikut ini, mulai uang pendaftaran, uang gedung, uang kuliah pokok, uang SKS, uang praktikum, uang ujian, uang jaket, uang buku, uang kesehatan, uang KKN, uang skripsi, uang ini, uang itu…….. you name it. Belum lagi biaya-biaya tidak langsung, seperti biaya kos, biaya hidup, biaya transportasi, biaya buku, biaya foto copy, dan lain-lain. Kalikan itu dengan sekian tahun masa kuliah anda.

Kalau anda bisa tinggal di rumah selama kuliah, sebaiknya ini yang anda pilih. Jadi, pilihlah PTS yang ada di kota anda. Kalau harus kuliah di luar kota, usahakan untuk tinggal di rumah saudara. Ini akan sangat banyak menghemat.

Sebelum melakukan pendaftaran, tanyakan semua komponen biaya yang harus anda bayarkan di PTS yang bersangkutan. Ingat untuk kuliah anda tidak hanya membayar uang kuliah saja. Tanyakan juga waktu pembayarannya. Biasanya PTS memberlakukan sistem pembayaran yang diharapkan tidak memberatkan mahasiswa, misalnya uang gedung boleh diangsur sekian kali, uang kuliah pokok dan uang SKS tidak dibayarkan bersamaan, dan lain sebagainya. Perhitungkan semuanya jika anda tidak ingin gagal karenanya.

Prospek

Dari ratusan program studi yang ditawarkan oleh PTS, tentu tidak semuanya menjanjikan prospek pekerjaan yang cerah di masa mendatang, 4 – 6 tahun sesudah anda menginjak bangku kuliah. Ada program studi yang tidak populer, sepi peminat karena dianggap tidak menarik atau kurang memberikan harapan pekerjaan dengan hasil yang memadai. Ada juga program studi yang selalu menjadi favorit, walaupun banyak lulusannya yang menganggur. Baik karena kurangnya lapangan pekerjaan atau pun terlalu banyaknya lulusan.

Anda dituntut untuk dapat memprediksi prospek bidang studi yang anda pilih dalam memasuki lapangan pekerjaan sesudah anda lulus nanti. Sebagai contoh, pemerintah pernah menyatakan program studi hukum sebagai jurusan yang sudah jenuh karena jumlah perguruan tinggi penyelenggara dan jumlah mahasiswa yang mengambil program studi ini. Anda harus sangat istimewa di bidang ini untuk dapat bersaing dengan sekian banyak lulusan lainnya.

Apakah hal itu masih berlaku sekarang? Di era reformasi ini kita banyak melihat kasus-kasus hukum yang mulai mencuat ke permukaan. Orang bicara mengenai hak, kewajiban dan tanggung jawab. Banyak buruh melakukan demo menuntut haknya dipenuhi. Selesaikan secara hukum. Banyak perusahaan dan bank yang memerlukan penyelesaian hukum untuk menuntaskan permasalahan sesudah krisis ekonomi ini. Bukankah logis kalau hal-hal tersebut diselesaikan oleh para sarjana hukum?

Kita lihat juga jurusan pertanian dan kelautan. Sesudah sektor industri dan perbankan terpuruk akhir-akhir ini, orang mulai melirik lagi sektor pertanian. Jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar, dan semuanya butuh makan setiap hari, menuntut tersedianya bahan pangan yang cukup untuk itu. Dan bukankah Tuhan memberikan tanah yang demikian subur kepada bangsa kita? Kenapa kita kalah dari Thailand misalnya dalam produksi hasil pertanian?

Bukan hanya tanah subur yang Tuhan berikan kepada kita, tetapi juga laut yang sangat luas dan kaya. Pemerintah pun menyadari hal ini dengan menunjuk seorang menteri yang bertugas untuk mengeksplorasi potensi kelautan Indonesia. Apakah bidang tersebut masih prospektif 5 tahun yang akan datang? Hei…. kita baru saja mulai.

Globalisasi? Tentu saja ini akan sangat menentukan wajah dunia masa datang. Perdagangan bebas, banyaknya perusahaan asing yang masuk ke Indonesia (di antaranya karena aset negara kita terpaksa dijual kepada mereka!), semuanya menuntut standar dunia juga. Bahasa asing (bukan hanya bahasa Inggris), perdagangan internasional, lingkungan, peralatan berteknologi tinggi, komputer, internet, dan banyak lagi akan menjadi tuntutan yang tak terhindarkan.

Saya ingatkan, tidak ada prediksi yang benar 100%. Tetapi akan sangat berguna kalau anda bisa mengantisipasi kondisi di masa depan. Kalau anda merasa tidak mampu melakukannya sendiri, bertanyalah kepada orang tua, guru, teman, konsultan, atau siapapun. Jangan pertaruhkan masa depan anda karena ketidaktahuan ini.

Sesudah ketiga faktor di atas anda pertimbangkan masak-masak, kini tiba saatnya anda memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan kriteria tersebut. Sediakan cukup banyak waktu, karena lebih banyak faktor eksternal dan bersifat teknis yang terlibat di sini. → Continue

Menyiasati Pengangguran Bergelar

1

Category : Pendidikan

Sumber : Media Indonesia
Jumlah penganggur terdidik di Indonesia setiap tahun terus bertambah, seiring dengan diwisudanya sarjana baru lulusan berbagai perguruan tinggi (PT). Para sarjana pengangguran itu tidak hanya lulusan terbaik PT swasta, tetapi juga PT negeri kenamaan.

Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah sarjana (S-1) pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2008 jumlah pengangguran terdidik bertambah 216.300 orang atau sekitar 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik. Belum ditambah pengangguran lulusan diploma (D-1, D-2, D-3) terus meningkat. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57%.

Sarjana yang menganggur itu sebagian besar berasal dari jurusan sosial nonkependidikan, agama, dan sebagian lagi jurusan eksak (MIPA). Dari jurusan eksak dan teknik hanya sedikit menyumbang jumlah pengangguran. Itu karena sebagian besar jurusan eksak dan teknik sudah terserap di berbagai industri dan perusahaan BUMN. Fenomena meningkatnya jumlah pengangguran terdidik menimbulkan keprihatinan kita bersama. Selain menunjukkan adanya ketimpangan (mismatch), itu memperlihatkan kegagalan pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan bagi rakyatnya.

Jika dikaji dari perspektif sosiologi, meningkatnya pengangguran terdidik jelas membahayakan. Para penganggur itu sangat rentan melakukan tindak kriminalitas. Bahkan dengan kemampuan intelektual yang dimiliki, para sarjana pengangguran itu bisa menciptakan kejahatan baik di dunia nyata maupun dunia maya (internet). Seperti pembobolan bank melalui situsnya, menyebar virus komputer yang mematikan, sampai mengacak-acak data kependudukan.

Meledaknya jumlah pengangguran terdidik jauh hari sudah diramalkan pakar pendidikan Ivan Illich (1972). Menurutnya, akan tiba masa pendidikan menjadi tidak berguna dihadapkan dengan kehidupan nyata. Padahal pendidikan sudah terlalu banyak menyerap biaya, tetapi hasilnya kurang optimal. Bahkan, hanya menghasilkan para pemalas yang tidak terampil, yang mengincar pekerjaan formal dan ringan.

Ubah paradigma

Guna menekan kenaikan jumlah pengangguran terdidik, tidak ada pilihan bagi perguruan tinggi (PT) dan dunia pendidikan untuk mengubah paradigma. Jika semula lebih menekankan pada aspek kecerdasan konseptual (kognitif), kini harus dibarengi penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Pasalnya, berbagai penelitian menunjukkan keberhasilan mahasiswa bukan ditentukan kepandaian yang dipunyai, tetapi oleh faktor lainnya yang sangat penting. Singkatnya, tingkat kecerdasan hanya menyumbang sekitar 20%-30%, sementara jiwa kewirausahaan yang didukung kecerdasan sosial justru menyumbang 80% keberhasilan anak di kemudian hari.

Istilah kewirausahaan atau entrepreneurship, tulis Pinchot (1988), merupakan kemampuan untuk menginternalisasikan bakat rekayasa dan peluang yang ada. Seorang entrepreneur akan berani mengambil risiko, inovatif, kreatif, pantang menyerah, dan mampu menyiasati peluang secara tepat. Lebih dari itu, jiwa dan semangat kewirausahaan juga sangat urgen dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara. Bukan hanya ketepatan prediksi dan analisis yang tepat, melainkan juga merangsang terjadinya invensi dan inovasi penemuan-penemuan baru yang lebih efektif bagi pertumbuhan ekonomi. Lantas, bagaimana strategi menanamkan jiwa kewirausahaan itu?

Dalam pandangan Husaini Usman (2008), jiwa kewirausahaan sangat efektif jika ditanamkan melalui bangku pendidikan. Hanya, proses penanamannya harus dilakukan secara holistik atau melibatkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mata kuliah kewirausahaan seyogianya diberikan dengan porsi lebih banyak dan dominan jika dibandingkan dengan mata kuliah lainnya yang berorientasi pada kecerdasan kognitif.

Agar mahasiswa tidak bosan, pelajaran kewirausahaan harus dikemas secara menarik, sistematis, dan disesuaikan dengan tingkatan usia anak didik, serta dalam kondisi menyenangkan. Sebagai praktiknya, pihak kampus perlu mengundang para pelaku bisnis yang sukses. Mereka diminta menerangkan atau menceritakan perjalanan hidup, dan bagaimana kiat-kiat agar usaha bisa sukses. Kisah hidup itu paling tidak akan merangsang para mahasiswa untuk meneladaninya.

Jika memungkinkan, pihak kampus perlu memperbanyak pendirian usaha nyata. Misalnya gerai penjual makanan, simpan pinjam, jasa tiket transportasi, perbankan, kursus bahasa asing, dan sebagainya. Selanjutnya, secara bergantian para mahasiswa mendapat tugas berpraksis di situ, dengan target-target yang telah ditentukan. Kegiatan ini selain sebagai proses magang kerja, juga akan memperkenalkan mahasiswa pada kondisi usaha riil.

Menyiasati peluang

Fenomena ketimpangan lulusan PT dengan dunia kerja harus disikapi dengan jeli, kreatif, pantang menyerah dan penuh kearifan. Entah dari calon mahasiswa, orang tua, pengelola PT, entah pemerintah sebagai stakeholder pendidikan. Bagi mahasiswa, sejak awal memasuki PT harus disiapkan mental bahwa kuliah bukan segala-galanya. Persiapan mental itu selanjutnya dibarengi sikap membuka diri, cerdas menyiasati peluang, dan kreatif mencari ilmu-ilmu praktis yang berguna untuk kehidupan kelak. Benar kuliah tidak boleh ditinggalkan, tetapi tidak ada salahnya jika mereka juga mengikuti berbagai training; semisal training sumber daya manusia (SDM), peningkatan kemampuan finansial dan jiwa kewirausahaan.

Mengikuti berbagai pelatihan bagi mahasiswa menjadi penting sebab fakta di dunia kerja menunjukkan tidak semua lulusan PT siap kerja. Hasil studi Blau dan Duncan (1967) di Amerika Serikat, Mark Blaug (1974) di Inggris, dan Cummings (1980) di Indonesia menunjukkan kecenderungan bahwa tidak semua lulusan PT siap dipekerjakan. Banyak dunia industri yang mengeluh lantaran harus melakukan pelatihan bagi lulusan PT dalam waktu yang lama sebelum dipekerjakan.

Selain giat mengikuti berbagai pelatihan, para mahasiswa juga harus membekali diri dengan berbagai keterampilan. Misalnya keterampilan bahasa asing, komputer, keahlian berkomunikasi, jaringan kerja (networks), dan sebagainya. Bagi mereka yang gemar menulis, tidak ada salahnya jika skill itu digunakan untuk menambah penghasilan sembari menerapkan teori-teori yang didapat dari bangku kuliah. Singkatnya, ketika masih kuliah, para mahasiswa harus ‘prihatin’, kritis, dan kreatif.

Setelah lulus, kata Ono Suparno (2010), para sarjana–dengan berbekal keahliannya–dituntut tidak sekedar menjadi entrepreneurship biasa. Tidak hanya tidak sebanding dengan tingkat kapabilitas dan skill yang dimiliki, seorang entrepreneurship biasa hanya memiliki kemampuan menjual sebuah produk dengan mendapat keuntungan sedikit. Para sarjana itu mestinya menjadi seorang entrepreneurship berbasis teknologi atau technopreneurship, yang mampu menciptakan produk bernilai tambah hasil dengan bantuan teknologi. Technopreneurship juga akan menjadi salah satu kunci penciptaan knowledge-based economy, yang akan meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi pengangguran.

Agar sukses menjadi seorang technopreneurship, para sarjana perlu memperhatikan dua konsep penting. Pertama, menjamin bahwa teknologi yang diterapkan atau dibuat bekerja dalam lingkungan target. Dengan menetapkan target, kerja yang dilakukan akan terarah efektif dan efisien. Ketepatan dan kecepatan dalam alokasi waktu itu, sangat menentukan keberhasilan seorang technopreneurship. Kedua, teknologi tersebut dapat dijual dengan menghasilkan keuntungan. Artinya, orientasi penciptaan sebuah teknologi sebisa mungkin diarahkan pada keuntungan berlipat, dengan terlebih dahulu meningkatkan nilai jual.

Di sisi lain, pemerintah sebagai pemegang kebijakan (policy maker) harus menyambut baik dan mendukung para sarjana yang menjadi technopreneurship. Dukungan itu amat penting, sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam pengentasan pengangguran. Bentuk dukungan pemerintah misalnya dengan mempermudah prosedur pengurusan hak paten. Selama ini proses pengajuan hak paten sangat rumit dan terkesan dipersulit sehingga sedikit perguruan tinggi (PT) yang mengajukan permohonan hak paten. Pada 2000-2005 misalnya, hanya ada sekitar 201 pengajuan hak paten dari perguruan tinggi. Padahal, hak paten merupakan kunci kesuksesan utama sebagai technopreneurship. Dengan penggunaan hak paten, penelitian di perguruan tinggi juga bisa terdorong, dan alih teknologi serta investasi bisa terangsang lebih besar lagi.

Oleh Agus Wibowo Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Menata Ulang Pendidikan Karakter Bangsa

Category : Pendidikan

Bekas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah (1) tanda yang tertinggal atau tersisa (setelah dipegang, diinjak, dilalui); kesan, (2) sesuatu yang tertinggal sebagai sisa (yang telah rusak, terbakar, tidak dipakai lagi); (3) pernah menjabat atau menjadi. tetapi sekarang tidak lagi, mantan; dan (4) sudah pernah dipakai. Makna lain dari bekas adalah tempat menaruh sesuatu, wadah. Adapun bekasam/pekasam adalah ikan (daging, durian, dsb), yang diasinkan atau diasamkan, lalu dijemur atau disimpan agak lama.
Mobil bekas adalah mobil yang pernah dipakai orang lain. Baju bekas pasti tidak lagi seindah pakaian baru, malah sering kali diberikan kepada orang lain saat bakti sosial. Manusia bekas? Setiap orang, selama bertahun-tahun, telah menjadi korban dari kata-kata orang lain. Orang tua, guru, teman, pimpinan, tokoh masyarakat, politisi, disadari atau tidak, telah membentuk alam pikiran kita menjadi seperti apa yang mereka katakan. Hebatnya, kita sendiri sangat menikmati hidup dalam belenggu kata-kata bekas orang lain itu. Mereka ini disebut Jiddu Krishnamurti, dalam bukunya yang sangat inspiratif, Freedom from the Known, sebagai manusia bekas (secondhand people).
Jika demikian yang dilakukan, tanpa terasa kita telah berubah menjadi entitas bekas. Potensi kemanusiaan telah tereduksi sedemikian rupa menjadi hanya sekadar wadah, tempat menaruh sesuatu. Kebiasaan menjadi wadah, berakibat kecenderungan konformitas lebih kuat daripada kreativitas. Produktivitas, karenanya, menjadi sesuatu yang sangat sulit terjadi. Orang lebih nyaman menjadi konsumen daripada bersusah payah berupaya untuk dapat menjadi produsen. Pendidikan kita selama ini, mohon maaf, sepertinya lebih banyak menghasilkan generasi yang pandai mengeluh, membebek, dan memintas. Perubahan paradigma pendidikan diperlukan secara lebih fundamental jika kita berharap bangsa ini dapat lebih produktif dan memilik daya saing global di masa depan. Kalau tidak, pendidikan di republik ini hanya akan terus melahirkan secondhand human being.

Pendidikan karakter yang efektif
Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.
Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan–sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.
Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup.
Sekolah yang telah berkomitmen untuk mengembangkan karakter melihat diri mereka sendiri melalui lensa moral, untuk menilai apakah segala sesuatu yang berlangsung di sekolah mempengaruhi perkembangan karakter siswa. Pendekatan yang komprehensif menggunakan semua aspek persekolahan sebagai peluang untuk pengembangan karakter. Ini mencakup apa yang sering disebut dengan istilah kurikulum tersembunyi, hidden curriculum (upacara dan prosedur sekolah; keteladanan guru; hubungan siswa dengan guru, staf sekolah lainnya, dan sesama mereka sendiri; proses pengajaran; keanekaragaman siswa; penilaian pembelajaran; pengelolaan lingkungan sekolah; kebijakan disiplin); kurikulum akademik, academic curriculum (mata pelajaran inti, termasuk kurikulum kesehatan jasmani), dan program-program ekstrakurikuler, extracurricular programs (tim olahraga, klub, proyek pelayanan, dan kegiatan-kegiatan setelah jam sekolah).
Di samping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektivitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari komunitas yang lebih luas (bisnis, organisasi pemuda, lembaga keagamaan, pemerintah, dan media) dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah-orang tua ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik karena terlalu banyak menekankan pada penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan program. Berbagai pertemuan yang dilakukan tidak jarang terjebak kepada sekadar tawar-menawar sumbangan, bukan bagaimana sebaiknya pendidikan karakter dilakukan bersama antara keluarga dan sekolah.
Pendidikan karakter yang efektif harus menyertakan usaha untuk menilai kemajuan. Terdapat tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian: (1) karakter sekolah: sampai sejauh mana sekolah menjadi komunitas yang lebih peduli dan saling menghargai? (2) Pertumbuhan staf sekolah sebagai pendidik karakter: sampai sejauh mana staf sekolah mengembangkan pemahaman tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk mendorong pengembangan karakter? (3) Karakter siswa: sejauh mana siswa memanifestasikan pemahaman, komitmen, dan tindakan atas nilai-nilai etis inti? Hal seperti itu dapat dilakukan di awal pelaksanaan pendidikan karakter untuk mendapatkan baseline dan diulang lagi di kemudian hari untuk menilai kemajuan.

Menjadi laksanawan
Meski tidak umum, pemunculan istilah laksanawan semoga tidak keliru–wan atau -wati adalah sebuah sufiks dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Sanskerta. Akhiran itu biasanya digunakan bersama-sama dengan kata benda, dan dapat berarti ‘orang yang…’ Dalam perkembangannya, akhiran -wan mengalami perluasan makna sehingga dapat berarti ‘orang yang ahli dan berprofesi dalam bidang…’ Misalnya, usahawan orang yang ahli dan berprofesi dalam bidang usaha tertentu. Oleh karena itu, laksanawan dimaksudkan sebagai orang yang ahli melaksanakan apa yang diyakini, orang yang berprofesi melaksanakan apa yang sudah menjadi keyakinan hidupnya. Manusia jenis itu tidak puas dengan hanya wacana. Inilah man of action, in the real meaning. Bersatu antara kata dan perbuatan.
Semoga pendidikan karakter tidak berhenti hanya wacana karena tidak termasuk dalam program 100 hari pemerintah SBY-Boediyono. Pada poin 13, reformasi di bidang pendidikan, hanya disebut: ‘Menyambungkan atau mencegah mismatch antara yang dihasilkan lembaga pendidikan dan lembaga pelatihan dan keperluan pasar tenaga kerja. Banyak yang dihasilkan perguruan tinggi, oleh sekolah-sekolah kejuruan, oleh balai-balai latihan kerja, tidak selalu klop dengan yang diminta pasar tenaga kerja.’ Lagi-lagi hanya soal pekerjaan, lalu di mana pendidikan karakter? Who knows?

Oleh Khoiruddin Bashori, Pengamat dan Psikolog Pendidikan

Sumber : Media Indonesia

Pendidikan yang Menghina Pendidikan

Category : Pendidikan

Sumber : Media Indonesia

JUMLAH sarjana yang menganggur di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada Februari 2005, jumlah sarjana yang menganggur masih 385.400 orang. Empat tahun kemudian, yakni pada Februari 2009, jumlahnya sudah melonjak dua kali lipat menjadi 626.600 orang.

Angka pengangguran terdidik bertambah besar lagi jika digabungkan dengan pengangguran lulusan diploma yang mencapai 486.400 orang. Para penganggur terdidik itu merupakan bagian dari pengangguran terbuka secara nasional yang pada Februari 2009 mencapai 9,26 juta atau setara dengan 8,14% dari total angkatan kerja.

Pertambahan jumlah pengangguran tingkat sarjana mesti diwaspadai. Sebab setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 300.000 sarjana dari 2.900 perguruan tinggi. Semakin besarnya angka pengangguran terdidik tentu saja berdampak buruk, yakni berpotensi menimbulkan masalah sosial.

Mereka, para penganggur terdidik, bisa saja menjadi aktor intelektual kejahatan yang ada di tengah masyarakat. Selain itu, pengangguran terdidik adalah sebuah pemborosan. Bukankah negara sudah mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan? Alokasi anggaran yang begitu besar hanya untuk memproduksi penganggur sehingga jelas sebuah pemborosan.

Dampak buruk lainnya, ini paling serius, adalah hilangnya penghargaan dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi. Bukan rahasia lagi, untuk masuk ke perguruan tinggi dibutuhkan biaya selangit.

Semakin jelas sudah bahwa perguruan tinggi masih menghasilkan manusia pencari kerja. Celakanya, perencanaan pembangunan pendidikan tinggi tidak selaras dengan perkembangan lapangan kerja sehingga lulusannya tidak bisa terserap di lapangan kerja. → Continue

Keluarnya PP Dosen Disambut Baik

Category : Pendidikan

SBY, “Kami Harap Anak Didik Semakin Berkualitas”
Keluarnya PP Dosen Disambut Baik

Sumber : Galamedia
TAMANSARI,(GM)-
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku sudah menan-datangani peraturan pemerintah (PP) tentang dosen sebagai turunan dari Undang-undang Guru dan Dosen. Keluarnya PP ini mendapat sambutan baik dari berbagai perguruan tinggi di Jabar, terlebih tunjangan bagi guru besar yang naik hingga tiga kali lipat pun akan cair pada awal Juni ini.

Menurut SBY, sebagai implementasi dari UU Guru dan Dosen, pemerintah sudah mengeluarkan PP tentang guru akhir tahun lalu. Dan kini, PP tentang dosen yang mengatur tentang hak dan tunjangan dosen pun sudah ditandatangani.

“Setahap demi setahap, kita tingkatkan kesejahteraan guru dan dosen. Kami harap, ini bisa membuat anak didik semakin berkualitas,” ujar SBY pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2009 di Sabuga, Jln. Tamansari, Selasa (26/5).

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo menambahkan, pihaknya pun sudah menyiapkan rapel, tunjangan, dan peraturan terkait dengan penetapan PP ini. Bahkan Depdiknas, katanya, sudah menyediakan dana sebesar Rp 9 triliun untuk tunjangan profesi guru dan dosen. Terkait tunjangan, bagi guru yang lulus sertifikasi 2009 akan dibayar pada 2010 dan yang lulus 2008 dibayar tahun ini. “Sebagian tunjangan sudah dibayarkan karena sebelumnya sudah ada peraturan menteri,” ujar Bambang sambil menambahkan, dana Rp 9 triliun tersebut masuk dalam anggaran pendidikan 20%.

Lebih jelas, Dirjen Dikti Depdiknas, Fasli Jalal mengungkapkan, PP ini merupakan turunan UU Guru dan Dosen. Dalam PP ini tercantum syarat-syarat menjadi dosen yang minimal S2, jaminan profesionalisme atau tunjangan profesi, dan tunjangan khusus bagi dosen di daerah terpencil, perlindungan akademi, beban mengajar, peluang membangun organisasi, dan lainnya. “PP ini mengatur soal keseimbangan kesejahteraan dan profesionalisme,” ungkap Fasli.

Dengan ditetapkannya PP Dosen, kata Fasli, tunjangan profesi dosen pun segera cair. Tunjangan diberikan pada dosen yang sudah melakukan sertifikasi dan guru besar. Untuk guru besar, mereka mendapatkan tunjangan 3 kali lipat. Di antaranya tunjangan profesi satu kali gaji pokok dan tunjangan kehormatan dua kali gaji pokok atau totalnya sekitar Rp 13 juta. Tunjangan tersebut akan diberikan mulai Januari hingga Mei.

“Pada akhir Mei atau awal Juni ini tunjangan sudah cair. Pencairannya dirapelkan dari Januari hingga Mei,” ungkapnya sambil menambahkan, di Indonesia ada 75.000 dosen PNS, 65.000 berada di PTN dan 10.000 ditugaskan di PTS. Sementara dosen yang sudah melakukan sertifikasi pada 2008 sebanyak 8.700 dan tahun ini ada 12.000.

Telah ditandatanganinya PP tentang dosen ini disambut baik sejumlah perguruan tinggi di Jabar. Seperti yang diungkapkan Rektor UPI, Sunaryo Kardinata. Ia mengatakan, keluarnya PP Dosen ini merupakan wujud pengakuan dan kepedulian pemerintah. Namun PP ini pun harus diimbangi dengan tanggung jawab yang sungguh-sungguh dari tenaga pendidik. “Hak harus diimbangi dengan tanggung jawab, sehingga ada fungsi pengendalian,” tutur Sunaryo. (B.95/B.81)**

Pembelajaran di Korsel 15 Jam/Hari

Category : Pendidikan

Sumber : Suara Merdeka

LAMA pembelajaran para murid di sekolah Korea Selatan (Korsel), rata-rata berlangsung selama 15 jam/hari. Jam pelajaran di sekolah diberlakukan mulai pukul 07.00 dan berakhir sampai pukul 22.00 dan setiap kelas muridnya hanya berjumlah 25 anak. Itu pun masih dikelompokkan menjadi dua grup, masing-masing berjumlah 12 dan 13 anak.

Kepala SMK Negeri 2 Wonogiri Ir Drs H Dikin mengungkapkan hal itu setelah baru-baru ini melakukan studi banding tentang pembejalaran di sejumlah sekolah bertaraf internasional (SBI).

Studi banding ke Korsel, berlangsung selama lima hari. Dari Provinsi Jateng, yang berangkat adalah perwakilan dari Kabupaten Wonogiri, Kebumen, Karanganyar, Wonosobo, Jepara, Pekalongan, dan Kota Solo. Kunjungan itu, ungkap Dikin, khusus melakukan studi banding ke sejumlah SBI dan kunjungan ke beberapa industri besar nasional.

”Satu hal yang menarik, sekolah-sekolah yang mempunyai nama di Korea, justru didirikan oleh perusahaan-perusaha an industri terkenal seperti Hyundai, Samsung, dan LG. Pemerintah tinggal mendukung subsidi pendanaannya. ”
Sistem pembelajaran seperti itu, lanjut dia, memudahkan para lulusannya, yang jelas-jelas cerdas dan menguasai keterampilan, dapat direkrut menjadi tenaga kerja di perusahaan yang bersangkutan.
Nasionalisme
Kiat pembentukan karakter dan sikap juga ikut dikedepankan. Penanaman kepribadian yang ulet, jiwa yang tangguh, dan semangat tak kenal menyerah, ikut masuk menjadi kurikulum pembelajaran sekolah di Negeri Gingseng itu. Nasionalisme bangsa Korea begitu tinggi. Mereka secara besar-besaran mengekspor aneka produk industrinya ke pasar dunia, tapi bangsanya juga setia memakai produk dalam negerinya sendiri. Demikian halnya dengan kesetiaan pemakaian bahasa nasionalnya. Hampir semua buku-buku di perpustakaan memakai bahasa Korea. “Sepertinya, Korea menginginkan bahasa nasionalnya berkembang menjadi bahasa internasional layaknya bahasa Inggris,” tutur Dikin.

Mengenai kondisi alamnya, imbuh Dikin, sebenarnya lebih buruk dibandingkan dengan alam Wonogiri. Daerah Korea hampir didominasi perbukitan dan gunung batu serta tanah gersang. Tapi etos kerja dan semangat belajar orang Korea tinggi.

“Ini mungkin terbangun oleh situasi dan kondisi alamnya yang tidak subur itu, yang kompensasinya menjadikan aspek pendidikan dan keterampilan serta pembangunan kualitas SDM bangsa Korea mendapatkan prioritas.”

Pamrihnya, lanjut dia, agar SDM-nya menjadi berkualitas dan unggul, tidak saja di lingkup negaranya sendiri tapi juga menonjol di percaturan internasional. (Bambang Pur-45)

40% PTS Belum Terakreditasi

Category : Pendidikan

Sumber : Koran SINDO

PADANG(SINDO) – Departemen Pendidikan (Depdiknas) menyatakan sekitar 40% program studi perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia belum terakreditasi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal mengatakan akan segera menerbitkan proses administrasi sejumlah PTS yang belum mendapatkan akreditasi tersebut. Pihaknya berharap pada 2012 semua kampus sudah memiliki syarat administrasi itu. ”Setelah itu, PTS yang tidak mengurus izin dan akreditasi tidak boleh mengeluarkan ijazah,” kata Fasli di Padang kemarin.

Fasli menjelaskan,sekitar 40% PTS itu terdiri atas PTS yang belum pernah mengurus akreditasi, tidak lulus akreditasi, serta masa akreditasinya sudah habis.Menurut dia, banyaknya PTS yang tidak terakreditasi karena sebelum keluar Peraturan Pemerintah (PP) No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, memang PTS tidak diharuskan mendapatkan akreditasi.

Untuk itu,kata Fasli,mulai sekarang pemerintah bekerja keras membantu meningkatkan mutu PTS dengan memberikan beasiswa pada mahasiswa dan dosen, memberikan hibah dalam bentuk fasilitas dan alat pengajaran, serta mengirim dosen belajar di luar negeri. Menyinggung standar akreditasi,Fasli mengatakan bahwa nilai A,B,dan C boleh, tetapi yang tidak boleh adalah tidak terakreditasi sama sekali. Dia mengungkapkan, terdapat 10 persyaratan bagi PTS untuk mendapatkan akreditasi.

Persyaratan tersebut antara lain kualifikasi dosen dan mahasiswa serta sarana-prasarana. ”Jadi bagi yang memenuhi kriteria tersebut, nilai akreditasinya bisa lebih baik,”tuturnya. Fasli mengatakan, kini Ditjen Dikti berupaya memperbanyak asesor pada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan memberikan dana lebih besar untuk mengadakan pelatihan. Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan mengundang aksesor sehingga dapat menjelaskan tentang sumber kejanggalan akreditasi.

”Kini BAN-PT juga tengah memfokuskan pada akreditasi akademi yang akan dibuat lebih spesifik, karena dulunya umum saja,” katanya. Menanggapi hal ini,Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah III Suyatno mengatakan memang banyak kendala yang menjadikan banyak program studi di PTS yang belum terakreditasi, di antaranya keterbatasan asesor yang dimiliki BAN-PT. ”Kemampuan BAN-PT terbatas sehingga banyak PTS yang mengajukan proposal untuk akreditasi belum dipenuhi,” katanya ketika dihubungi SINDO tadi malam.

Selain itu,terang Suyatno, persiapan bagi PTS untuk mendapatkan akreditasi memang butuh waktu lama. Hal itu terkait pengumpulan dokumen bagi syarat pengajuan akreditasi. ”Laporan perkembangan akademis setiap semester PTS harus ditunjukkan. Karena itu, perlu waktu untuk mengumpulkannya,” ujarnya. Apalagi, lanjut dia, standar pengajuan akreditasi bagi PT saat ini tergolong tinggi. Karena itu, PTS berusaha mewujudkan standar itu terlebih dahulu sebelum mengajukan permohonan ke BAN-PT.

”Kalau ingin akreditasi A, misalnya, itu harus standar PT di Asia, terutama soal kualifikasi dosen, rasio jumlah mahasiswa dan dosen, serta sarana dan prasarana,” ujarnya. Namun, Suyatno mengatakan saat ini pihaknya terus mendorong para pengelola PTS untuk segera mengajukan proses akreditasi.Hal ini selain untuk melindungi masyarakat banyak terkait kualitas sebuah perguruan tinggi, juga terkait dengan daya saingnya dengan perguruan tinggi lain.

”Kalau akreditasinya bagus, kan kualitasnya tentu akan tinggi.Namun,saya kira sekarang kesadaran PTS untuk meminta akreditasi sudah besar, karena mereka menilai hal itu penting untuk didapat,”terangnya. Sementara itu Ketua Umum Aptisi Suharyadi menambahkan, saat ini sanksi dari pemerintah dengan tidak mengeluarkan ijazah terhadap PTS yang belum terakreditasi masih longgar. Karena itu, masih banyak PTS tidak mengikuti aturan tersebut.

”Tetapi ke depannya pasti akan diperketat. Karena itu, saya tekankan para pengelola untuk segera mengakreditasi program studinya, karena masyarakat tentunya akan menilai dari kualitas dari akreditasi PT tersebut,” katanya. (rendra hanggara/ant)